JAKARTA – Bidik Nusantara
Pembentukan Badan Ekonomi Kreatif oleh pemerintahan Jokowi-Jk
merupakan janji Presiden Jokowi pasca kampanye yang akan meningkatkan dunia
ekonomi kreatif, dibentuknya lembaga Ekonomi Kreatif menjadi sebuah badan ini
maka berada dibawah presiden dan Triawan
Munaf diangkat sebagai Kepala badan ekonomi kreatif yang telah dilantik pada senin
kemarin tanggal 26 Januari 2015.
Kementrian ini akan ada 6 deputi yang membawahi
bidang-bidang tersebut. Yakni Deputi Riset Edukasi dan Pengembangan, Deputi
Akses Permodalan, Deputi Infrastruktur, Deputi Hubungan dan Pengembangan antar
Wilayah , Deputi Pemasaran, Deputi Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
Badan ini juga akan membawahi 16 subsektor. Yaitu di
bidang, arsitektur desain interior, desain produk, film animasi video,
fotografi, desain komunikasi visual , kriya (kerajinan tangan), aplikasi dan
game developer, kuliner yang terbesar 30
persen dari penyumbang, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni
rupa, dan televisi dan radio.
Hal tersebut tentunya mendapat respon positif dari
kalangan artis dan pemerhati dunia kreatif karena akan membawa angin segar terhadap dunia
perfileman di indonesia, melihat perkembangan dunia film di Indonesia saat ini
begitu pesat.
Seperti yang diungkapkan oleh Mugi Elman aktor juga
permerhati film ini saat dimintai pendapat melalui pesan elektroninya. “Dibentuknya Badan ekonomi kreatif adalah
sebuah angin segar dalam dunia
perfileman Indonesia mengingat prestasi-prestasi para senias kita yang hingga
saat ini telah memproduksi film dan berhasil sampai kedunia international seperti
hal nya Film The Raid ...,”katanya
Selain itu aktor yang pernah main dalam film Raden
Kian Santang dan Babad Tanah Jawa ini
juga berkomentar tentang subsektor bidang “Film animasi video” yang akan
membuka ruang baru dalam dunia perfileman di Indonesia.
“Dengan adanya subsektor film animasi video khususnya, kita ketahui bahwa film animasi atau film yang berteknologi
CGI saat ini merupakan film yang sangat
digemari oleh masyarakat dunia , seperti contoh film Hobbit dan lain-lain, dan
teknologi animasi telah dipakai oleh negara lain seperti Amerika yang pada awal mula produksi di era
70an. Bayangkan kita cukup tertinggal bukan, di Indonesia saat ini juga sudah mulai ada Production
House (PH) Film yang berani untuk memproduksi sebuah film menggunakan teknologi
animasi atau CGI (computer generated imagery), jadi subsektor tersebut akan menambah semangat sineas
kita untuk berkreasi dalam pengembangan kemampuan produksi film berteknologi
CGI ”tuturnya.
Dia juga berpendapat hal ini akan menjadi sentimen
positif yang akan menumbuhkan bisnis perfileman di Indonesia.
“Hal tersebut akan mendorong pelaku-pelaku usaha kecil dan menengah
dibidang produksi animasi rumahan yang sudah ada untuk men-generate usahanya
agar lebih besar lagi, atau diharapkan menjadi sebuah ide baru bagi animator-animator handal kita yang bekerja di
perusahaan asing sehingga mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia untuk mendirikan
usaha dibidang serupa, dengan timbulnya
pengusaha-pengusaha lama dan baru apabila berkembang , maka akan jadi sebuah
sentimen positif yang berdampak kepada Devisa Negara”pungkasnya .
Editor: Sumburi Ibrahim sumber



0 comments:
Posting Komentar